WASILE – Para petani hortikultura di Desa Tutuling Jaya, Kecamatan Wasile Timur (Wastim), Kabupaten Halmahera Timur (Haltim), kini tengah menghadapi situasi sulit lantaran melimpahnya pasokan bawang merah dari luar daerah mengakibatkan hasil panen lokal menumpuk dan sulit menembus pasar domestik.
Kondisi ini memicu desakan agar Pemerintah Daerah (Pemda) segera melakukan intervensi kebijakan sebab Hingga saat ini, pasar di Halmahera Timur dilaporkan masih didominasi oleh komoditas hortikultura asal luar daerah, seperti Manado, Sulawesi Utara.
Hal ini berdampak langsung pada rantai distribusi petani lokal yang kehilangan mitra serta pelanggan tetap.
Wiyardi (47), salah satu petani di Desa Tutuling Jaya, mengungkapkan bahwa hasil panen miliknya kini menumpuk akibat minimnya serapan pasar.
Selain sulit mencari pembeli, harga jual bawang merah lokal kian tertekan karena harus bersaing dengan produk luar yang masuk dalam skala besar.
“Bawang merah kami banyak yang tidak terjual. Kalaupun laku, harganya sangat rendah dan tidak sebanding dengan biaya produksi,” ujar Wiyardi pada Senin (13/04/2026).
Pihaknya menduga penyebabnya adalah Kurangnya peran Pemda Haltim dalam pemerataan pangan dan perlindungan komoditi lokal dinilai menjadi akar permasalahan.
Ia juga berharap pemerintah tidak tinggal diam dan segera mengambil langkah konkret untuk melindungi ekosistem pertanian di wilayah mulai dari Regulasi Distribusi: (Pengaturan volume masuknya produk dari luar daerah agar tidak mematikan harga lokal), Mekanisme Penampungan: (Penyediaan sarana atau badan usaha yang mampu menampung hasil pertanian warga), dan Kemitraan Strategis: (Memfasilitasi kerja sama dengan pihak ketiga atau program pembelian hasil panen langsung oleh pemerintah).
Lanjut dia, Kondisi ini jika dibiarkan berlarut-larut dikhawatirkan akan mematahkan semangat produksi para petani. Jika petani berhenti menanam akibat kerugian finansial, hal ini berpotensi mengganggu stabilitas ketahanan pangan di wilayah Wasile Timur dan sekitarnya.(Aks).


Tinggalkan Balasan