WASILE — Serikat Petani Indonesia Cabang Halmahera Timur (SPI HALTIM) melaksanakan kegiatan penggalangan sekaligus penyaluran bantuan  Sembilan Bahan Pokok (Sembako) kepada petani terdampak banjir lumpur dan limbah tambang di Desa Subaim, Kecamatan Wasile, Kabupaten Halmahera Timur (Haltim) Maluku Utara (Malut), Sabtu (17/5/2026).

Kepada Wartawan, Senin,(18/05/2026),Ketua DPC SPI HALTIM, Nurhakiki  mengatakan kegiatan tersebut dilakukan sebagai bentuk solidaritas organisasi terhadap masyarakat petani yang mengalami kerusakan lahan pertanian, kehilangan hasil panen, hingga terganggunya aktivitas perkebunan akibat banjir yang membawa lumpur dan material limbah ke kawasan kebun serta permukiman warga.

Dikatakan, dalam beberapa waktu terakhir, warga Desa Subaim diketahui menghadapi kondisi yang semakin memprihatinkan. Lumpur bercampur material diduga berasal dari aktivitas pertambangan dilaporkan masuk ke area pertanian warga saat intensitas hujan tinggi sehingga, menyebabkan tanaman di kebun warga tertimbun dan mengakibatkan kerusakan hingga hasil produksi petani menurun drastis.

Atas nama SPI HALTIM, ia menilai kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada ekonomi masyarakat, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran serius terhadap keberlanjutan sumber penghidupan petani, kualitas tanah, hingga kondisi sumber air di sekitar wilayah terdampak.

Lanjut dia, Sebagai bentuk kepedulian, SPI HALTIM membuka penggalangan bantuan selama tiga hari, dimulai sejak 14 hingga 17 Mei 2026. Namun, dalam proses penggalangan, bantuan dana yang berhasil dikumpulkan, berasal dari dukungan Pengurus Pusat Serikat Petani Indonesia sebagai bentuk solidaritas antar petani dan organisasi perjuangan rakyat.

” Dari kegiatan tersebut, total bantuan yang berhasil dikumpulkan sebesar Rp2.500.000. Dana itu kemudian digunakan untuk pengadaan kebutuhan pokok dan bantuan darurat yang disalurkan langsung kepada petani terdampak di Desa Subaim,”katanya.

Selain menyalurkan bantuan,  tambah Nurhakiki, SPI HALTIM juga menggelar dialog bersama masyarakat guna mendengar langsung kondisi yang dialami petani di lapangan.

Ia mengaku Dalam pertemuan tersebut, warga menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi, mulai dari rusaknya kebun, hilangnya hasil panen, hingga kekhawatiran terhadap dampak limbah terhadap tanah dan sumber air yang selama ini menjadi penopang kehidupan masyarakat.

“Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi ruang untuk memperkuat rasa kebersamaan dan gotong royong di tengah masyarakat. Petani tidak boleh menghadapi situasi sulit ini sendirian. Solidaritas harus terus dirawat agar masyarakat bisa bangkit bersama,” ujarnya.

SPI HALTIM juga mendorong adanya perhatian serius terhadap persoalan lingkungan yang terjadi di Desa Subaim.

“Organisasi meminta adanya langkah konkret untuk pemulihan lingkungan dan perlindungan terhadap lahan pertanian masyarakat agar kerusakan yang terjadi tidak terus meluas,”tambahnya.

Kata nurhakiki, kondisi ini harus menjadi perhatian semua pihak, termasuk pemerintah daerah dan perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah tersebut Sebab, jika tidak ditangani secara serius, dampaknya dikhawatirkan akan mengancam keberlangsungan hidup petani serta ketahanan pangan masyarakat desa.

“Ke depan, SPI HALTIM akan terus mendorong penguatan organisasi petani, pendokumentasian kondisi lapangan secara partisipatif bersama masyarakat, serta pembangunan langkah pemulihan berbasis agroekologi sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan lingkungan dan kehidupan petani di Halmahera Timur,” tutup Nurhakiki.(Aks).