MABA — Lemahnya penerapan K3 dan pengawasan kerja di perusahaan Tambang yang beroperasi Di Kabupaten Halmahera Timur (Haltim) Provinsi Maluku Utara (Malut) menuai sorotan dari Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Maluku Utara.
Sorotan itu ditegaskan langsung oleh Wakil Ketua DPD GMNI Malut M. Asrul, menyusul adanya kecelakaan kerja yang pada PT. Arumba Jaya Perkasa yang mengakibatkan kerawanan pada perusahaan tersebut meninggal Dunia.
Dikatakan, insiden tersebut adalah bukti penerapan pengawasan K3 pada perusahaan sangat buruk sebab lanjut dia, keselamatan buruh harus menjadi prioritas utama dan tidak boleh diabaikan.
“Ini menyangkut nyawa pekerja. Perusahaan wajib menjamin keselamatan buruh. Kami menilai pengawasan K3 di PT Arumba Jaya Perkasa sangat lemah,” tegas Asrul.
Ia juga menegaskan, DPD GMNI Malut akan turun langsung ke lapangan dan melakukan aksi boikot terhadap aktivitas perusahaan tersebut pada pekan pertama setelah Hari Raya Idul Fitri sebab menurut dia Kecelakaan kerja yang dialami Perusahaan tersebut bukan kali pertama akan tetapi sudah berulangkali.
M. Asrul mendesak Kepala Teknik Tambang (KTT), Inspektur Tambang, serta Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Maluku Utara untuk segera dievaluasi kinerjanya
Asrul juga juga meminta Polda Maluku Utara tidak tinggal diam dalam merespons situasi yang dinilai semakin memburuk.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, insiden kecelakaan kerja yang kembali terjadi di wilayah operasi PT Arumba Jaya Perkasa di Desa Loleba, Kecamatan Wasile Selatan, Kabupaten Halmahera Timur, pada Rabu (18/3/2026).
kecelakaan terjadi saat aktivitas penggalian (cutting) di area tebing, Seorang operator excavator tengah bekerja di bawah lereng yang diduga tidak stabil. Secara tiba-tiba, lereng mengalami longsor (slope failure) yang menimbun alat berat beserta operator.
Peristiwa tersebut diduga terjadi akibat tidak diterapkannya metode benching atau pembuatan jenjang lereng yang seharusnya berfungsi mengurangi kemiringan dan risiko longsor.
Akibat kejadian itu, operator excavator berinisial ET, warga Desa Ekorino, Kecamatan Wasile Selatan, meninggal dunia di lokasi kejadian.(tim).


Tinggalkan Balasan