MABA  — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kecamatan Maba Tengah, Kabupaten Halmahera Timur (Haltim) Maluku Utara (Malut) hingga kini masih belum kembali beroperasi sejak penghentian sementara pada 29 April 2026.

Penghentian sementara penyaluran makanan bergizi kepada para siswa tersebut dilakukan karena adanya proses renovasi dan penambahan fasilitas pada dapur MBG yang berada di Desa Bangul, Kecamatan Maba Tengah.

Kepala Dapur MBG Desa Bangul, Laode Sahrul, kepada wartawan, Jumat (08/05/2026) menjelaskan bahwa, langkah penghentian sementara operasional dilakukan guna mempercepat pembenahan fasilitas dapur agar pelayanan ke depan dapat berjalan lebih maksimal dan memenuhi standar operasional yang ditetapkan.

“Dapur sementara belum beroperasi karena ada pekerjaan penambahan renovasi volume atau pembangunan tambahan fasilitas dapur yang sementara berlangsung,” ujar Laode Sahrul saat dikonfirmasi, Kamis (7/5/2026).

Menurutnya, pihak pengelola dapur telah menyampaikan pemberitahuan resmi kepada seluruh sekolah penerima manfaat MBG, baik secara langsung maupun melalui pesan WhatsApp, mulai dari wilayah Desa Bangul hingga Desa Gaifoli.

“Kami sudah sampaikan ke kepala sekolah secara langsung maupun lewat WhatsApp mulai dari Bangul sampai ke Desa Gaifoli,” katanya.

Laode juga menjelaskan, dapur MBG Desa Bangul selama ini melayani pembagian makanan bergizi bagi seluruh jenjang pendidikan di Kecamatan Maba Tengah, mulai dari PAUD, TK, SD, SMP hingga SMA.

“Menu makanan yang kami bagikan mencakup sekolah PAUD, TK, SD, SMP dan SMA,” jelasnya.

Selain renovasi fisik bangunan lanjut dia, pihak pengelola juga masih menunggu terbitnya dokumen Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dari Dinas Kesehatan sebagai bagian dari syarat administrasi dan kelayakan operasional dapur MBG.

Ia juga mengaku telah menyampaikan laporan khusus kepada Badan Gizi Nasional (BGN) terkait penghentian sementara layanan MBG sambil menunggu seluruh tahapan administrasi selesai diproses.

“Saya sudah ajukan laporan khusus ke BGN sambil menunggu SLHS terbit. Makanya kami isi waktu ini dengan perbaikan dan renovasi dapur,” ujarnya.

Laode menyebutkan bahwa pekerjaan renovasi yang dilakukan merupakan item tambahan atau pekerjaan susulan yang dikerjakan bersamaan dengan proses pengurusan administrasi kesehatan.

“Renovasi ini item susulan sembari menunggu SLHS dari Dinas Kesehatan keluar,” tambahnya.

Ia menuturkan, progres pembangunan tambahan fasilitas dapur MBG hingga saat ini telah mencapai sekitar 60 persen.

Dalam laporan kerja yang diajukan, estimasi waktu pengerjaan renovasi ditargetkan berlangsung selama 20 hari kerja.

Meski demikian, pihak pengelola memastikan operasional dapur dapat kembali berjalan lebih cepat apabila progres pembangunan telah dinyatakan siap digunakan.

“Di dalam laporan kami itu 20 hari kerja, tapi kami melihat progres pekerjaan. Kalau belum sampai 20 hari dan pekerjaan sudah siap, maka kami bisa mulai kembali tanpa harus menunggu penuh 20 hari,” terangnya.

SPPG Bangul, lanjut Laode, berkomitmen mempercepat tahapan renovasi agar penyaluran MBG kepada para siswa dapat segera kembali dilakukan.

Namun apabila pekerjaan renovasi melebihi target waktu yang telah ditentukan, pihak pengelola memastikan tetap akan memberikan informasi terbuka kepada seluruh sekolah penerima manfaat sebagai bentuk tanggung jawab kepada masyarakat.

“Kalau pekerjaan melebihi 20 hari, itu juga tetap kami sampaikan ke pihak sekolah karena itu sudah menjadi tanggung jawab kami agar semua siswa dan sekolah tahu,” katanya lagi.

Di akhir keterangannya, Laode menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat, khususnya para siswa dan pihak sekolah yang sementara belum menerima layanan MBG selama proses renovasi berlangsung.(Aks).